SURVEILLANCE MDR-TB

Tampaknya tidak terlalu keliru jika kita katakan bahwa ancaman epidemi TB masih cenderung diremehkan tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di skala internasional. Laporan Global TB 2016 yang dikeluarkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan bahwa penurunan insiden kasus baru TB sebesar 1,5% dari tahun 2014 ke tahun 2015 tidak cukup untuk untuk mencapai milestone pertama dalam Strategi Menghentikan Epidemi TB pada 2020. Perlu akselerasi oleh semua pihak – nasional maupun global – agar rerata penurunan kasus baru TB per tahun mencapai 4-5 persen.[1]

Laporan Global TB 2016 itu juga menyebutkan perkiraan pada tahun 2015 saja terdapat 10,4 juta kasus baru TB di seluruh dunia, dan sekitar 56% di antaranya (5,9 juta) adalah laki-laki, sementara 34% (3,5 juta) adalah perempuan. Sisanya sebesar 10 persen adalah kasus baru di antara anak-anak. Di antara kasus baru tersebut, 11% di antaranya atau sekitar 1,2 juta adalah kasus koinfeksi TB-HIV.

Indonesia adalah salah satu dari 27 negara beban TB MDR di seluruh dunia, dengan perkiraan 6.800 kasus baru setiap tahun. TB-MDR nasional diperkirakan 2,8% di antara Kasus TB baru dan 16% sebelumnya menangani kasus TB. Pada akhir November 2016, di Indonesia layanan PMDT telah berkembang menjadi 35 rumah sakit rujukan PMDT, 57 pusat perawatan PMDT dan 1.193 tempat perawatan (perawatan satelit) di 34 provinsi. Lebih dari 55.000 pasien TB yang dites untuk resistansi obat dan 6.000 pasien DR-TB (MDR, Pre XDR dan XDR) telah dirawat di seluruh negara sejak 2009. Pada 2016 (Januari hingga November), 2293 dikonfirmasi sebagai TB MDR / TB RR dan 1420 (62%) kasus baru didaftarkan. (sumber: Indonesia.etbmanager.org) Tingkat keberhasilan pengobatan untuk kasus MDR / RR-TB yang terdaftar pada tahun 2013 di Indonesia adalah 51%, dan tingkat keberhasilan pengobatan untuk kasus-kasus MDR / RR-TB yang terdaftar pada tahun 2013 di Indonesia adalah 40%.(WHO 2016). Prevalensi MDR-TB yang cenderung selalu meningkat (Jenkins et al. 2014).

Faktor resiko meningkatnya prevalensi dari MDR TB (Faustini, Hall, and Perucci 2006). Selain kasus TB lini pertama yang sangat besar, Indonesia juga tercatat sebagai salah satu dari 27 negara dengan beban MDR TB terberat di dunia. Diperkirakan setiap tahunnya terdapat 6.800 kasus baru MDR TB, atau 2,8% di antara infeksi baru TB, dan 16% di antara kasus TB yang sudah menjalani pengobatan. Merespon perkembangannya yang luar biasa, pemerintah sudah berusaha untuk memperluas akses ke pengobatan MDR TB (Programmatic Management of Drug-Resistant TB, PMDT) di semua tingkat layanan kesehatan. Hingga bulan November 2016, PMDT sudah tersedia di lebih dari 90 rumah sakit rujukan dan sub-rujukan, serta 1.193 puskesmas di 34 provinsi yang menjadi tempat pengobatan satelit yang berada di 34 provinsi. Sejak 2009 sudah lebih dari 55.000 orang menjalani test resisten obat, dan 6000 orang yang terindikasi (baik MDR, Pre XDR maupun XDR) sudah menjalani pengobatan sejak saat itu.

Seiring dengan cepatnya laju pertumbuhan kasus TB baru di Indonesia, demikian juga dengan kasus MDR TB. Data yang dikeluarkan WHO tahun 2016 menunjukkan bahwa dari seluruh kasus TB yang terdeteksi diperkirakan ada 10.000 kasus MDR TB (perkiraan 8000 – 12.000). Di seluruh dunia saat ini diperkirakan ada 480.000 kasus MDR TB. Cina, India, dan Rusia ditengarai sebagai penyumbang terbesar kasus MDR TB. Hampir 50 persen dari kasus MDR TB di dunia ditemukan di tiga negara tersebut. Namun dengan posisi Indonesia dalam infeksi TB baru saat ini, sudah jelas Indonesia juga berkontribusi penting dalam besaran masalah yang sesungguhnya.

  • Masalah yang muncul dari MDR TB(Prasad 2010)
  • Antibiotik resisten yang menyebabkan MDR-TB(Djuric et al. 2016)
  • Berkembangnya bakteri lain yang menyebabkan resisten obat (Müller et al. 2013)
  • (Müller et al. 2013)
  • Mengatasi masalah MDR, WHO memberikan strategi manajemen untuk mengatasinya (Falzon et al. 2011)

Daftar Pustaka

Djuric, Olivera, Snezana Jovanovic, Branka Stosovic, Tanja Tosic, Milica Jovanovic, and Ljiljana Markovic-Denic. 2016. “Antimicrobial Resistance of Selected Invasive Bacteria in a Tertiary Care Center: Results of a Prospective Surveillance Study.” The Journal of Infection in Developing Countries 10 (12). https://doi.org/10.3855/jidc.7695.

Falzon, D., E. Jaramillo, H. J. Schünemann, M. Arentz, M. Bauer, J. Bayona, L. Blanc, et al. 2011. “WHO Guidelines for the Programmatic Management of Drug-Resistant Tuberculosis: 2011 Update.” European Respiratory Journal. https://doi.org/10.1183/09031936.00073611.

Faustini, A., A. J. Hall, and C. A. Perucci. 2006. “Risk Factors for Multidrug Resistant Tuberculosis in Europe: A Systematic Review.” Thorax. https://doi.org/10.1136/thx.2005.045963.

Jenkins, Helen E., Valeriu Crudu, Viorel Soltan, Ana Ciobanu, Liliana Domente, and Ted Cohen. 2014. “High Risk and Rapid Appearance of Multidrug Resistance during Tuberculosis Treatment in Moldova.” In European Respiratory Journal. https://doi.org/10.1183/09031936.00203613.

Müller, Borna, Sonia Borrell, Graham Rose, and Sebastien Gagneux. 2013. “The Heterogeneous Evolution of Multidrug-Resistant Mycobacterium Tuberculosis.” Trends in Genetics. https://doi.org/10.1016/j.tig.2012.11.005.

Prasad, Rajendra. 2010. “Multidrug and Extensively Drug-Resistant TB (M/XDR-Tb): Problems and Solutions.” Indian Journal of Tuberculosis. https://doi.org/978 92 4 159919 1.

WHO. 2016. “WHO | Global Tuberculosis Report 2016.” Who 2016, no. 1: 1–204. https://doi.org/ISBN 978 92 4 156539 4.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *