“PERLUNYA AUDIT DI RUMAH SAKIT”

Hasil penelitian dari berbagai negara tentang prevalensi asma menunjukan angka yang bervariasi, di Skandinavia 0,7 %-1,8%; Norwegia 0,9%-2,0%; Finlandia 0,7-0,8%; Australia 5,4-7,4%, India 0,2%; Jepang 0,7%, Barbados 1,1%. Prevalensi asma di seluruh dunia sebesar 8-10% pada anak 3-5% pada orang dewasa dan dalam 10 tahun terakhir ini prevelensi asma telah meningkat menjadi 50 % (Purnomo, 2008). Asma telah menyebabkan hilangnya 16% hari sekolah pada anak-anak di wilayah Asia, 43% pada anak- anak di Eropa, dan 40% hari sekolah pada anak-anak di Amerika Serikat. Selain hari sekolah, mereka juga kehilangan kegiatan luar rumah, hobi mereka, dan bahkan hubunganya dengan teman, relasi dan keluarganya sendiri. Dengan kata lain, segala sesuatu yang berkaitan dengan kualitas hidup mereka (Hadibaroto, 2005).

Angka kematian asma menurut hasil penelitian Study on Asthma and Alergies in Childhood International pada tahun 2005 menunjukkan, di Indonesia prevalensi gejala penyakit asma melonjak dari sebesar 4,2 persen menjadi 5,4 persen. Selama 20 tahun terakhir, penyakit ini cenderung meningkat dengan kasus kematian yang diprediksi akan meningkat sebesar 20 persen hingga 10 tahun mendatang (GINA, 2006). Prevalensi penderita asma bronkial di Indonesia untuk berbagai daerah berkisar 5-7% (Sundaru, 2001). Angka mortalitas akibat serangan akut asma bronkial yang memerlukan perawatan unit rawat intensif dilaporkan sebanyak 12 % (Afessa et al., 1990). Saphiro (2001) merangkum laporan angka kematian dari berbagai institusi di luar negeri selama dua dekade terakhir berkisar 0-6%. Angka ini jauh lebih kecil dibandingkan dengan yang dilaporkan sebelumnya yaitu 22% (Mansel et al., 1990). Serangan akut asma bronkial dalam berbagai tingkatan beratnya juga merupakan kasus umum di RS Sardjito Yogyakarta memperlihatkan total 626 kunjungan ke UGD karena serangan akut asma bronkial (2,9% seluruh kunjungan tahun itu). Sepanjang tahun 2003 hingga pertengahan tahun 2004, serangan akut asma bronkial selalu masuk dalam 10 besar penyakit di UGD RS Sardjito. Pravelensi asma di Yogyakarta angkanya sekitar 16,4% (Dinas Kesehatan Provinsi Yogyakarta, 2010).

Audit Medis atau klinis sangat terkait dengan upaya peningkatan mutu dan standarisasi yang bertujuan agar tercapainya pelayanan medis yang prima di rumah sakit. Salah satu peran utama rumah sakit adalah memberikan pelayanan medis, sedangkan salah satu pasal dalam Kode Etik Kedokteran (KODEKI) menyebutkan bahwa seorang dokter harus senantiasa berupaya melaksanakan profesinya sesuai dengan standar profesi tertinggi. Ukuran tertinggi disini ialah sesuai dengan perkembangan IPTEK kedokteran, etika umum, etika kedokteran, hukum dan agama sesuai tingkat pelayanan kesehatan, serta kondisi dan situasi setempat. Penetapan Undang-Undang Nomer 29 Tahun 2004 tentang praktek kedokteran, maka seorang dokter dan dokter spesialis dalam melaksanakan praktik kedokteran wajib memberikan pelayanan medis sesuai dengan standar prosedur operasional serta kebutuhan medis pasien oleh karena itu setiap dokter dan dokter spesialis dalam melaksanakan praktek kedokteran wajib menyelenggarakan kendali mutu dan kendali biaya, dimana dalam rangka pelaksanaan kegiatan tersebut dapat dilaksanakan audit medis (Menteri Kesehatan RI, 2005).

Menurut undang-undang RI No.36 tentang kesehatan pasal 53, pelayanan kesehatan harus mendahulukan pertolongan keselamatan nyawa. Rumah sakit sebagai salah satu institusi pelayanan kesehatan masyarakat, ikut bertanggung jawab terhadap mutu pelayanan fasilitas. Rumah sakit bertanggung jawab memastikan pelayanan medis terselenggara dengan baik dan mutunya dapat dipertanggungjawabkan. Rumah sakit harus memberi kepastian bahwa profesional medis yang berpraktik adalah seorang yang mempunyai kualifikasi memadai, etis, patuh pada peraturan dan prosedur baku, serta catatan perilaku yang memuaskan. Disamping Undang-undang RI No.36 tahun 2009 menyatakan tenaga kesehatan harus memenuhi kode etik, standar profesi, hak pengguna pelayanan kesehatan, standar pelayanan dan standar prosedur operasional (pasal 24). Setiap orang berhak menuntut ganti rugi terhadap tenaga kesehatan dan atau penyelenggara kesehatan yang menimbulkan kerugian akibat kesalahan atau kelalaian dalam pelayanan kesehatan yang diterimanya (pasal 58).

Didalam UU RI No 44 tahun 2009 mengenai rumah sakit disebutkan pengaturan penyelenggaraan rumah sakit bertujuan untuk meningkatkan mutu dan mempertahankan standar pelayanan rumah sakit (pasal 39 ayat 3c), dalam penyelenggaraan rumah sakit harus dilakukan audit medis (pasal 39 ayat 1).

Audit medis yang efektif penting bagi para profesional kesehatan, manajer pelayanan kesehatan, pasien dan masyarakat umum karena dapat mendukung profesional kesehatan untuk memastikan bahwa pasien mereka menerima perawatan terbaik. Dengan demikian, audit medis merupakan instrumen yang sangat baik digunakan untuk menilai praktek perawatan saat ini dan kekuranganya yang ditemukan akan membawa perbaikan pada hasil perawatan (Asnani et al., 2005). Audit medik mempunyai komitmen untuk melakukan yang lebih baik berdasarkan temuan audit serta penerimaan konsep praktek berbasis bukti sehingga rumah sakit dapat menentukan pengelolaan yang optimal dalam upaya meningkatkan kepuasaan pasien. Oleh karena itu sudah seharusnya setiap penyelenggara pelayanan kesehatan memberikan pelayanan optimal dengan melakukan audit medis.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *